Sabar


Mendengarkan kajian via youtube adalah salah satu kegiatan yang bisa banget dilakuin sama banyak orang baik itu anak kuliahan, pekerja kantoran ataupun ibu rumah tangga, jadi walaupun gak bisa dateng langsung tapi di rumah tetep bisa nonton juga.

Ada banyak materi dan ustadz yang cara penyampaian materinya enak dan mudah dimengerti juga termasuk bagi orang-orang yang baru mau belajar Islam, salah satunya Ustadz Khalid yg materinya lengkap kayak kuliah, Adi Hidayat yang super detail, Syafiq Basalamah yang tegas, Nudzul Zikri yang halus tp menohok kata-katanya, Derry Sulaiman yang selalu mengingatkan kematian, dan Ustadz Abdul Somad yang suaranya keras dan analoginya kocak.

Kemaren baru ajah dengerin materi kajian dari Ustadz Somad, intinya ada yang menanyakan tentang kesabaran, kesabaran walaupun didzalimi orang yang digambarin dengan dilemparin batu yang aku bikinin komiknya. Analoginya cuma bwt bikin yg diceramahin gak ngantuk aja, tapi pada dasarnya kita tetap harus membalas keburukan dengan kebaikan, kuncinya adalah sabar dan doakan yang baik-baik semoga orang tersebut segera diberikan hidayah oleh Allah SWT.

Ayo sama-sama kita belajar Islam lebih banyak melalui media, datang ke pengajian atau membaca buku, mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih ada umur.

Advertisements

Drama Ojek Online


Semenjak tahu bahwa menggambar makhluk hidup itu gak boleh di dalam ajaran agama Islam, akhirnya aku udah gak pernah lagi terima orderan dan doodling makhluk hidup, kalo dari beberapa ceramah yang aku denger untuk kebutuhan tertentu gambarnya diperbolehkan tapi gak sempurna, misal gak ada mukany seperti yang ada di buku-buku solat, alhamdulillah akhirnya sekarang mulai doodling komik lagi tapi kali ini tanpa ekspresi.

Selama kerja dulu sampe dengan sekarang aku sangat terbantu banget dengan adanya ojek online hihi life is getting so much easier, hihi hampir setiap hari aku pake aplikasi ojek online baik itu ojek, kirim barang, ataupun mobil. Nah selama pengalaman naek ojek online macem-macem dah ceritanya, ada yang baik banget, ada mbak-mbak gagah pemberani, ada ojek yang banyak cerita, ada ojek yg gak hapal jalan, ada ojek yg diem banget, ada ojek yg badannya agak besar jadinya kita kayak numpang sepetak tempat ajah di motor untung gak jatoh, macem-macem deh hihi.

Salah satu yg paling legendary dan selalu bikin aku ngakak kalo inget cerita ini adalah pas saat aku mau naek ojek yang joknya basah abis keujanan, dengan polosnya aku minta tolong bapaknya lap joknya yg basah, dengan sigap dy jawab iya dan langsung mundurin celana ke belakang dan mulai ngelap dengan kekuatan bulan akan membunuhmu, speechless MasyaAllah ada ada ajah idenya ahaha tau gitu mendingan aku kasi tissue ajah bwt lap joknya zzzzz…

Berikut beberapa tips yang aku rangkum bwt temen-temen pengguna ojek online:

  1. Sebelum berangkat pelajari dulu rutenya, at least kamu tau garis besar jalannya jadi seandainya drivernya gak tw jalan kamu gak nyasar-nyasar amat.
  2. Siapin masker rambut di tas jaga2 kalo helmnya bau gak kering, daripada kamu pingsan di jalan mendingan kamu bawa masker rambut, yg pake kerudung jg bisa pake ini.
  3. Pegangan yg kenceng trutama pas naek ojek yg driverny agak gendats takutnya kamu jatoh di jalan dy gak sadar.
  4. Kalo lagi musim ujan and naek ojek usahain gak beredar di jalan2 yg banjirnya parah mending puter balik and pulang soalny motornya rawan mogok terutama yg motor matic daripada terjebak di jalan, percaya deh di kantor juga gak akan ada orang ahaha *curcol pengalaman pribadi*.
  5. Kasi tips kalo kamu lagi ada duit lebih.

2017 – A Start of A New Life


So to be honest, I’ve been waiting for this moment since the first day i went to work. At first, I just felt that I had no passion in this field. But since i have signed the contract so yeah I have to work on it and keep moving forward. Long story short, in 2015 my husband and I had an opportunity to do Umrah, there’s something different that we felt while doing umrah at that time, something we never realized before, something we have been ignoring before. 2015 has been the year that changed everything for us, we started to re-plan everything, we started to broaden our horizon about Islam and Riba itself and started to do hijrah from Riba. Alhamdulillah, I finally found what is my biggest reason to leave my former job as an auditor in a Bank. It’s more than a passion, it’s more than everything, and it’s a start of a new life.

Our Hijrah From Riba Milestone:

  1. 20th of October 2015 Husband Resign from working in a Bank.
  2. March 2017 close all the credit cards that we have.
  3. April 2017 close all the insurances and Reksa Dana that we have.
  4. April 2017 start to use Syariah Bank (Bank Syariah Mandiri and BCA Syariah)
  5. 15th of May 2017 pay off our KPR Loan.
  6. 11th of September 2017 Wife Resign from working in a Bank.

Alhamdulillah, Allah is too kind, Allah gave us a big lesson through riba. And we do believe that it all happens for a reason. There are still lotsa people regreting our choices for leaving our former jobs, but then we always come to one answer that happiness is not only about the materials, but it comes to a heart that always find happiness to everything that Allah SWT give to us.

Hijrah is not only a journey, it’s a journey that comes with a great responsibility. We deeply believe that it wouldn’t instantly change us into a way better person and it might be the hardest part, it surely will take times but insyaAllah it will always lead us to keep going there, hijrah to be a better Muslim. It was just the beginning of all. Please pray for us to keep going istiqomah doing this hijrah.

Review Buku tentang Riba


Book Review : Deep Thought about Riba

So it’s been a while from my latest book review. 

Masih dalam rangka proses hijrah dari riba, aku dan suami terus berusaha mencari ilmu dan memperdalam ilmu kami mengenai riba. Salah satu tujuannya adalah agar kami tidak kembali terperangkap dalam riba maupun produk-produk turunannya, selain itu juga untuk membersihkan diri kami dari salah satu dosa besar yang ancaman dan hukumannya di dunia maupun akhirat yang sangatlah perih. Sungguh rasanya ingin menangis saja kalo baca ayat-ayat yang isinya hukuman-hukuman bagi orang-orang yang memakan uang riba. Selain banyak mendengar kajian-kajian mengenai dosa riba, kami juga memperdalam ilmu kami melalui membaca buku. Lalu pilihan kami jatuh kepada 3 buku ini, 2 buku bercerita tentang riba secara umum, mulai dari pengertian, jenis riba, dalil riba, ancaman untuk pelaku riba dan pemakan uang riba, produk-produk riba, bagaimana cara membersihkan diri dari harta riba, serta kisah-kisah nyata tentang orang-orang yang keluar dari jeratan riba, sedangkan 1 buku berisi tentang ilmu fikih dan ekonomi yang berisi teori-teori, serta pengertian dalam mengenai riba, serta kaitannya dengan ekonomi.

Ketiga buku ini menceritakan bahwa di zaman modern ini, sungguh banyak sekali umat Muslim yang sudah terjerat dalam jeratan riba. Riba sendiri sangat luas pengertiannya, tidak hanya dalam bunga hutang piutang tapi juga berupa bunga deposito, danareksa, produk obligasi, penjualan valas yang tidak dilakukan pada saat yang sama, serta penggunaan kartu kredit. Tetapi semua produk-produk ribawi yang ada saat ini dibungkus sangat menarik padahal sesungguhnya riba termasuk dalam salah satu dari 7 dosa besar yang jika dilakukan maka kita akan dilaknat, tidak diberkahi kehidupannya di dunia, serta akan disiksa dengan siksaan yg perih di neraka. Semua kenikmatan yang bersifat semu, fake dan sementara di dunia yang kita dapatkan dari riba tidak akan sebanding dengan ancaman hukumannya di akhirat kelak. Kita akan diazab di kubur, dihisab, dan pada akhirnya dimasukkan ke neraka yang kekal. Naudzubillah min zalik!

Seperti halnya yang tertulis di dalam buku yang kami baca, riba tentunya dilarang karena Allah memiliki alasan, sungguh tidak mungkin suatu hal dilarang jika tidak ada mudharatnya. Riba yang pada pengertian umum adalah tambahan. Tambahan ini tidak didapatkan melalui kerja keras, tambahan ini didapatkan dengan cara yang instan dan menganggap semua hal bersifat pasti, padahal ada unsur ketidakpastian di dalamnya, misalnya dalah hutang piutang, usaha nasabah tidak selalu untung, kemudian dalam penjualan valas kurs juga selalu berubah. Ada pihak yang mengalami kerugian dan ada yang mengalami keuntungan. Allah SWT melarang riba karena hal ini tentulah tidak benar, semua tentang fikih muamalah yang sesuai syarinya sudah diatur di dalam Alquran, yang perlu kita lakukan hanyalah mematuhinya. Dan hal yang perlu kita ketahui adalah semua uang yang didapatkan dari riba tidak akan berkah, dan tidak akan mendapatkan pahala jika digunakan untuk bersedekah, berzakat atau pun amal lainnya. Harta yang berasal dari riba harus dibersihkan dengan cara diberikan kepada fakir miskin atau untuk pembuatan fasilitas umum. Perlu kita ingat bahwa tidak aka nada pahalany seluruh amalan yang kita lakukan dengan menggunakan uang riba, karena Allah SWT hanya menerima uang yang bersih dari riba, uang yang berkah.

Rumah yang mewah, mobil keluaran terbaru, baju yang mahal, tas yang bermerk yang kita dapatkan dari hasil riba sungguh tidak ada artinya. Rumah dan mobil yang mewah sering kali menjadi parameter kesuksesan yang dilihat di masyarakat saat ini. Lalu semua orang berlomba-lomba untuk mengajukan kredit dengan alasan kebutuhan dan agar terlihat mapan. Semuany instant dan perjuangan serta kerja keras yang dahulu dilakukan orang untuk memperoleh sesuatu saat ini sudah tidak menjadi trend, jika pada zaman dahulu masih kita temui orang-orang yang menabung untuk membeli mobil, orang membeli tanah yang kemudian dibangun sedikit-sedikit sesuai kemampuan. Saat ini semua orang berlomba-lomba untuk terlihat keren dan mapan, padahal semuanya kredit. Tidak ada salahnya untuk menggunakan kendaraan umum jika belum sanggup untuk membeli kendaraan, toh menggunakan kendaraan umum juga dapat mengurangi polusi dan mengurangi kemacetan serta membuat tubuh sehat karena kita banyak berjalan, Tidak ada salahnya mengontrak rumah atau ngekos jika memang belum ada uangnya untuk membeli rumah atau tanah. Tidak ada salahnya memulai usaha dari nol.

Sebelum tahun 2015, jujur saja bekerja di bank bagiku bukan merupakan riba. Aku masih menganggap bahwa hutang piutang, dan bunga deposito di bank adalah hal yang biasa. Sungguh masih sangat minim ilmu ini, malu sekali rasanya karena umur yang berbanding terbalik dengan ilmu agama yang dimilki. Semenjak tahun 2015, aku dan suami Alhamdulillah diberikan Allah SWT hidayah. Kami mulai menyadari bahwa riba adalah hal salah, haram hukumnya. Kami pun berhenti mencari teori pembenaran dengan dalil yang lemah. Karena sesungguhnya pada fitrahny kami mulai menyadari bahwa hal ini haram, namun kami seolah masih mengingkarinya. Padahal segala sesuatu yang ada di Alquran adalah benar, tidak layak bagi manusia dengan level hamba seperti kita untuk meragukan segala yang tertulis di Alquran. Sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami taat. Maka mulailah kami melakukan perubahan-perubahan rencana yang bertujuan untuk Move On dari riba. 

Berikut adalah beberapa hal yang telah kami lakukan dan insyaAllah akan kami lakukan pada tahun ini.

1. Suami resign dari bekerja di bank, dan istri resign dari bekerja di bank (coming soon insyaAllah tahun ini 2017)

2. Mempercepat pelunasan KPR yang seharusnya berakhir pada tahun 2023, kami berusaha untuk menargetkan akan lunas insyaAllah tahun ini 2017.

3. Berhenti menggunakan kartu kredit, menutup semua kartu kredit, dan berbelanja secara cash.

4. Menutup semua produk-produk yang mengandung dana-dana ribawi seperti asuransi, dan danareksa. (InsyaAllah tahun ini 2017).

5. Akan memindahkan tabungan dari bank konvensional ke bank berlabel syariah yang diyakini tidak mengandung ribawi di dalamnya.

6. Berusaha untuk menjalankan usaha jual beli yang tidak mengandung unsur ribawi di dalamnya.

7. Berusaha keras untuk tidak membuka pintu ribawi lagi.

8. Hidup sederhana sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan kebutuhan dan tidak bersikap konsumtif.

Pada saat ini baru hal ini yang kami lakukan, semoga Allah masih memberikan waktu bagi kami untuk bertobat. Adapun hal ini kami bagikan bukan untuk riya’ atau pamer, tapi semata-mata bertujuan agar tidak ada lagi teman-teman ataupun saudara-saudara yang terjebak dalam dunia ribawi. Jikalaupun sudah terlanjur terjebak, marilah kita bersama-sama hijrah dan mulai meninggalkan riba.

Karena hijrah membutuhkan proses, dan proses tentunya membutuhkan waktu. Tetapi apakah waktu hidup kita di dunia ini cukup? Wallahualam, hanya Allah Azza Wa Jala yang mengetahuinya. Semoga kita masih diberikan Allah kesempatan untuk bertobat dan beramal sebanyak-banyaknya. Ketiga buku yang kami baca amatlah bagus dan sangat menambah ilmu kami mengenai riba, jika ada kesempatan tidak ada salahnya untuk membeli dan membaca buku ini.

2016 – A Year Of Hijrah


2016 written with spices on wooden background

It is only 8 days before the last day of 2016. Lotsa things happened in this year. I could say that this year is nominated to be one of the hardest year of my life. Really, it’s not an easy year, I still can’t believe that finally I’ve been through it. Eventually I just realized that all the hard works are paid.

 

Why it has to be a year of hijrah?

Well, let me tell you the stories, it all started from our Umroh Journey in May 2015.

There’s something in our heart that told us the truth. Tears were coming from our eyes.

Regret and A lot of Feelings fulfilled our broken hearts at that time.

The only thing that came in our mind at time was How To Fix it All?

How To Fix all of the mistaken that had been done by us?

How To Be a Better person in our very short time in this temporary world?

 

Umroh has lot of effects on changing our way of life. Suddenly all of our bucket list including our Resolution in 2016 were changed. And yes hijrah is one of the resolution that we’ve been done along 2016. The biggest and the hardest “hijrah” that have been done is Hijrah from Riba, I knew that it was very hard, I even still hafta work in a Bank due to a contract. So instead of debating about riba in Indonesia, we choose to do some action to at  least alleviate “Riba lifestyle” in our daily life. The first thing that we did was saving money to pay for the mortgage installment payment instead of buying gadget or even having a vacation, we try so hard to accelerate the payment so that it will not lasting so long. And hopefully we can pay it as soon as possible. The second thing is decreasing using CC (credit card) for shopping or buying things. I even neva used my cc for almost a year, I also close my CC. For now me and my husband only has 1 credit card. And the third one is hijrah from working in a Bank to be a work at home mom which insyaAllah will be realized in 2017.

 

Our second Hijrah is Hijrah from Fancy and Jajanan Food into a healthy food, no more Fancy Food, No More Oily or Gorengan Food, No Preservatives and No MSG. We try so hard to eat and cook our own homemade food, all healthy and halal food. Actually we did this hijrah because we’re on a herbal pregnancy theraphy program but apparently it looks like an eat clean program for me and my husband. We successfully lose our weight. My weight now is 49 and my husband is 65, rite before doing this program our belly were look like a santa’s belly.

 

Our third Hijrah is Hijrah from having a lot of bucket list to travel around the world into preparing ourself to do Hajj as the priority. We still have a dream of travelling around Indonesia and around the world but the thing is we had to change our priority, just because we have to.

 

So that’s all the biggest hijrah that we’ve done for 2016.

Semoga Allah SWT masih memberikan usia yang panjang bagi kami untuk selalu bertaubat dan beribadah sebanyak-banyaknya, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Sakit itu tidak harus Tua, dan Mati itu itu tidak harus Tua, jadi yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita sebaiknya-baiknya untuk mengumpulkan amalan dan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk kita bawa ke Kampung Halaman kita yang sebenarnya yaitu Akhirat.

Wonderful Journey in Baitullah Part 2 – Friendship and Silaturahim


20150428_0759372015-04-26-10-53-26_deco

Going Umroh as a couple means we have to separate each other when the prayer’s time was calling, me in the women side, and husband in the men side. 5 times in a day, 3-5 times in the different places and rows, and 3-5 times with different people by your side. And how come I couldn’t get many friends there. I met many friends, some came from the same travel with me, and some others come from different travel, different cities, and even different countries.

Sometimes u can’t even guess what kind of people will be in your left or right side. I used to have some selfie with all of them, but unfortunately I didn’t always bring my phone with me, especially in Nabawi, bcoz we’re not allowed to bring cell phone due to some good reasons. Actually me and my husband decided not to activate our phone every time we had a trip except when in hotel using the Wifi only to give information for our family.

IMG_3803 IMG_3796

In Nabawi, I met a woman which also a banker, she came with her husband for the first time for umrah, been married fot 7 years and still dunno have any children. I met couple of friends, 3 friends from Makassar, 1 friend from Jakarta, and 1 friend from Pekanbaru, their umroh trip was fully sponsored as a gift by their office. Lucky Them! I met a tough mom with her two lil kiddos. She was a very adorable mom, every time I saw her, she neva stop teaching her two lil kiddos how to read Al Quran in a good way, and how to memorize it J. I also met an old woman, she has daughters which haven’t got married, she’s been hajj for 5 times, and umroh for 7 times on the same travel (NRA). She kept smiling and told me not to give up on whatever the situation is. She told me to read shalawat, and that everyone in this whole wide world has their own problem, never stop doing efforts, and never stop praying.

20150427_090203

In Raudhah, I met a humble woman, which also a banker, she went umroh for the second time, been married for 5 years and still dunno have any children. I also met a woman who has been married for 4 years, felt miscarriage in her 2nd years of marriage, and still dunno have any children. I also met a grandma which never stop crying every time she saw raudhah. She told me that she couldn’t kept her excitement of having those beautiful experiences in Raudhah.

In Makkah, I met an ald woman, she’s been hajj for 5 times, and umroh for 4 times, she told me that this place will always be missed by everyone who have came here. So, always believe that whenever you had a will to go back and back again to Baitullah, insyaAllah there will be a way to go there. she has kissed Hajar Aswad for 7 times, how amazing rite? She also told me that I was so lucky to have came for umroh in a very young age.

20150430_161338

I also met an old woman from Palestine, she told me a lot about Palestine, Masjidil Aqso and her family who still live in Gaza. Some of her family in Gaza were dying of the war. At another prayer time, I met some Turkish people who never stop starring on my “mukena” and “hijab”, they told me that it was beautiful. At my second day in Makkah, I met a woman from Thailand. She can speak Malay but couldn’t speak Thai. She told me that she lived in the Border of Malaysia and Thailand, which were dominated by Moslems. In front of Murtazam, I met a Turkish old woman, who was very kind and humble to me, at the end of the prayer time she was whispering me something in an Arabic words which I dunno the meaning, the only thing that I got was Al-Islam.

20150430_124008

After doing my third umroh, I met an Algerian girl who lives in Lion, France. She couldn’t speak English, but she knew what I mean, her name is Almadila, so every time I asked her a question, she asked her mom to answer me in English, she was so pretty just like her mom.

20150501_085550

On my last day in Makkah in Fairmont Hotel Lobby, I met Noon. At first I thought that her name is Brenda, bcoz after showing my Name Tag she said Brenda ahaha but I was wrong actually, so she thought that my name is Brenda becoz above my name it was written “Beranda”. Ahaha so I explained again that my name is Ruri not Brenda and she told that her name is Noon. Noon came from Morocco, she came for umroh with her husband leaved her two lil kiddos with her mom. She told me that her two lil kiddos were still wearing diapers so it will be super hard to take them along for Umroh. Noon said that in Morocco, they can do umroh individually without using travel, and it was very easy. Her first time umroh is the best experience that she had, and after that she always miss Baitullah and want to come again and again to Makkah. And she was totally true I couldn’t agree more. She have worked in Emirates but then she stopped working and being a house wife after having two children from her marriage. I also asked her about the beautiful pashmina which always used for the stewardess on the airplane, she gave me the tutorials but I still dunno understand how to wear it ahahah (I just like say ya ya ya all the time ahahaha). She was a nice friend, she told a lot about Morocco, and amazingly she told me that a Morocco could speak 3-5 languages. The main language is Arabic, and the second language could be chosen by each people, it could be Spanish, France, or English, amazing rite all those languages are totally different specially Arabic but they could understand it, so cool rite (Standing Applause). She been travelling to Asia for a week to Singapore, Kuala Lumpur, and Phuket, I told her to come to Indonesia to see another paradise in Asia.

IMG_3999

IMG-20150429-WA0004

20150426_081428 20150427_150156

On our travel (NRA), We met Ustadz Subki, Ustadz Hasan, Ustadz Subhan, Ustad Rusdi, and Ustadz Arifin Panogoro.

IMG_3862 IMG_3864

We also met a lot of people,one of them is a humble fren who has a face that really look like Dian Pelangi, she was so beautiful and such an ideal woman to married as a wife banget deh keibuan. I also met a nice and super humble couple, Mbak Ayu Dyah Andari and Mas Muliandy. Mbak Ayu herself was a Palembangnese too, she was a famous designer, and her husband was an oil and gas expert well both of them were totally inspiring couple (dah kita mah apah atuh), and you know what that her husband even won the first prize “ A Car that could be returned with 7 Umrah Packages”, and even worse Mbak Ayu herself also won an umroh prize, how lucky they are rite. At the same time we also met another humble couple of a doctor Mbak Luthfi and an oil and gas engineer Mas Rahdian, they were a great parents too, they had 3 children, two of them were twins, but unfortunately one of the twin have passed away and leaving a neva ending sadness for both of them. I also met some “Emak-Emak Hebring” who neva stop talking about their family and children, and ended up by an idea to make an engagement mission to their children ahahaha I guess I’ll do the same on my future life hehehe. I also met beautiful twinnies, and their older sister who has a look-alike face, it did make me want to have twin babies hihihi. On the same bus, me and my husband also met a branch manager of a syariah bank in Makassar with her wife, they were so kind and super humble. Well we do met a lot of people there, and I couldn’t even recall them one by one on this posting, but I am so happy. I simply learned a lot from those people, and I am very grateful about it. Alhamdulillah.